Oktober 12, 2026

Pemerintah Siaga Hadapi Bencana Hidrometeorologi saat El Nino Masih Mengintai

0
1001337084

JAKARTA — Ancaman bencana hidrometeorologi masih menjadi perhatian pemerintah di tengah fenomena El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 529 zona musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami kemunduran awal musim hujan 2026/2027. Kondisi ini membuat kesiapsiagaan terhadap kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, hingga longsor perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki mengatakan dampak El Nino masih perlu diwaspadai meski sejumlah daerah mulai memasuki periode hujan. Menurut dia, kondisi atmosfer dan laut menyebabkan kemarau berlangsung lebih panjang dan kering sehingga risiko karhutla tetap terbuka.

“Musim kemarau kita secara umum akan menjadi lebih panjang dan menjadi lebih kering,” ujar Marjuki.

Marjuki menjelaskan El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027 dan dapat membuat awal musim hujan mundur dari kondisi normal. Pada Oktober, wilayah selatan ekuator masih cenderung mengalami curah hujan rendah, sementara perbaikan secara bertahap diperkirakan mulai terlihat pada November.

Kondisi berbeda mulai terlihat di sejumlah daerah yang memasuki masa peralihan. Di Bengkulu, misalnya, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober. Kepala Pelaksana BPBD Kota Bengkulu I Made Ardana mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi peningkatan intensitas hujan.

“Menjelang musim penghujan yang diperkirakan BMKG akan terjadi pada Oktober 2026, maka antisipasi yang dilakukan oleh BPBD mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk membersihkan saluran air dari sampah, menjaga kebersihan lingkungan guna mengantisipasi terjadinya banjir,” kata I Made.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo mengingatkan pola musim di Nusa Tenggara Barat juga mengalami perubahan. Seluruh zona musim di NTB diprakirakan mengalami kemunduran awal musim hujan.

“El Nino kita adalah El Nino yang sangat kuat. Ini menyebabkan panjangnya musim kemarau di tahun 2026,” kata Nuga.

Ia menambahkan, musim hujan yang datang lebih lambat berpotensi berlangsung lebih singkat dengan intensitas hujan lebih tinggi.

“Karena pendek, kita memprediksi nanti curah hujan akan lebih tinggi intensitasnya. Inilah yang biasanya memicu bencana hidrometeorologis, biasanya banjir dan tanah longsor,” ujarnya.

Data BNPB menunjukkan karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah pada awal Oktober, sementara laporan banjir juga muncul di beberapa daerah. Pemerintah bersama BPBD dan unsur terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan sesuai perkembangan di lapangan.

Dengan penguatan informasi cuaca, koordinasi pusat dan daerah, serta kesiapsiagaan masyarakat, potensi dampak El Nino dan perubahan pola musim dapat diantisipasi lebih dini sehingga perlindungan masyarakat dan keberlanjutan aktivitas nasional tetap terjaga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *