Januari 11, 2026

PSN di Papua Menjadi Fondasi Baru Pembangunan Inklusif

0
1752135688_421535abe125d737a6d1.jpegw376dpr2

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Percepatan Proyek Strategis Nasional di Tanah Papua menunjukkan arah kebijakan pembangunan yang semakin terukur, inklusif, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Di wilayah pegunungan hingga kawasan selatan, PSN tidak hanya dimaknai sebagai proyek fisik, melainkan sebagai instrumen negara untuk menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat ketahanan pangan, dan menata fondasi pemerintahan daerah yang efektif. Pendekatan ini menegaskan keseriusan pemerintah dalam memastikan Papua menjadi bagian integral dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Di Papua Pegunungan, PSN sektor pangan menjadi bukti nyata keberpihakan kebijakan pada kebutuhan dasar masyarakat. Pembukaan lahan persawahan berskala besar di Jayawijaya dirancang untuk menghidupkan kembali tradisi bertani yang pernah menjadikan Wamena sebagai lumbung padi kawasan pegunungan. Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol menilai kawasan Tulem di Distrik Witawaya memiliki posisi strategis sebagai jantung aktivitas ekonomi Wamena sehingga layak ditetapkan sebagai sentra produksi pangan baru dan masuk dalam PSN. Penilaian tersebut berangkat dari kesiapan lahan, aksesibilitas, dan potensi dampak ekonomi yang luas bagi delapan kabupaten di wilayah Papua Pegunungan.

Rencana pembukaan persawahan yang ditargetkan mencapai sekitar 2.000 hektare di sejumlah distrik menunjukkan skala intervensi yang serius. Program ini tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan penguatan kelompok tani, percepatan penanaman, dan pengelolaan pascapanen. Ones Pahabol memandang langkah ini sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk membangkitkan kembali semangat bertani masyarakat pegunungan yang secara historis memiliki kapasitas produksi tinggi. Dengan pendekatan tersebut, PSN diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan beras lokal, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Aspek keberlanjutan sosial menjadi perhatian utama. Pemerintah daerah menegaskan penggunaan lahan dilakukan melalui skema pinjam pakai dengan tetap menghormati kepemilikan masyarakat adat. Ones Pahabol menekankan bahwa program ini murni untuk kepentingan ekonomi rakyat dan tidak mengandung kepentingan politik. Penegasan ini penting untuk membangun kepercayaan publik, sekaligus memastikan bahwa manfaat PSN dirasakan langsung oleh warga setempat tanpa mengorbankan hak atas tanah.

Dampak ekonomi turunan dari PSN pangan di Papua Pegunungan juga signifikan. Kegiatan pembukaan lahan menyerap tenaga kerja lokal dan membuka ruang partisipasi generasi muda sebagai operator alat berat maupun tenaga lapangan. Ones Pahabol melihat keterlibatan anak muda putra daerah sebagai investasi sosial jangka panjang, karena keterampilan yang diperoleh dapat ditransfer ke kabupaten lain di Papua Pegunungan. Dengan demikian, PSN berfungsi sebagai katalis peningkatan kapasitas sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Sementara itu, di Papua Selatan, PSN diposisikan sebagai solusi atas keterbatasan fiskal daerah dalam membangun infrastruktur pemerintahan yang representatif. Usulan 28 program daerah untuk dibiayai melalui skema PSN mencerminkan kebutuhan riil akan dukungan pusat dalam mempercepat penataan kawasan. Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menjelaskan bahwa program-program tersebut merupakan prioritas daerah yang diusulkan menjadi strategis nasional agar memperoleh dukungan pembiayaan memadai.

Salah satu fokus utama adalah pembangunan kawasan Kota Terpadu Mandiri Salor sebagai pusat pemerintahan baru. Rencana pembangunan 22 kantor organisasi perangkat daerah di kawasan tersebut dinilai krusial untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Apolo Safanpo menilai keterbatasan kemampuan APBD membuat dukungan PSN menjadi pilihan rasional agar pembangunan dapat berjalan tepat waktu dan sesuai standar. Dengan infrastruktur pemerintahan yang terpusat dan modern, efektivitas birokrasi diharapkan meningkat, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Sinergi pusat dan daerah melalui PSN di Papua memperlihatkan pola pembangunan yang adaptif terhadap karakteristik wilayah. Di pegunungan, PSN menjawab kebutuhan pangan dan lapangan kerja. Di selatan, PSN memperkuat tata kelola pemerintahan dan percepatan pembangunan kawasan. Keduanya saling melengkapi dalam kerangka besar pemerataan pembangunan dan pengurangan kesenjangan antarwilayah.

Keberhasilan PSN di Papua juga ditopang oleh prinsip percepatan yang terukur. Pemerintah daerah mendorong agar proses pembukaan lahan dan penanaman dapat segera dilakukan sehingga manfaat ekonomi cepat dirasakan. Ones Pahabol menilai kecepatan implementasi menjadi kunci agar masyarakat merasakan dampak nyata, bukan sekadar rencana di atas kertas. Prinsip serupa tercermin di Papua Selatan, di mana percepatan pembangunan kantor OPD dipandang penting untuk mengonsolidasikan pelayanan publik.

Secara keseluruhan, PSN di Papua menunjukkan wajah pembangunan yang semakin inklusif dan berorientasi hasil. Dukungan kebijakan pemerintah pusat, dikombinasikan dengan kepemimpinan daerah yang memahami kebutuhan lokal, menjadi fondasi kuat bagi percepatan kesejahteraan. Dengan pendekatan yang menghormati hak masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, dan menata infrastruktur pemerintahan, PSN berpotensi menjadi tonggak penting transformasi Papua menuju masa depan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Kesinambungan PSN di Papua mencerminkan optimisme kuat bahwa pembangunan yang terencana dan terarah mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan sinergi yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan warga setempat, PSN menjadi penggerak kemajuan yang memperkuat ekonomi, meningkatkan kualitas layanan publik, serta menumbuhkan kepercayaan terhadap arah pembangunan nasional. Keberhasilan ini menegaskan bahwa Papua memiliki peran strategis dalam agenda besar Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah yang dijalankan secara konsisten mampu menghadirkan kesejahteraan yang semakin merata dan berkeadilan.

)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *