Januari 26, 2026

Danantara Pastikan PSEL Berteknologi Tinggi, Sampah Jadi Energi Bernilai Ekonomi

0
c621d186-97cc-44f0-adfe-23ab70dd283e

Jakarta — Danantara menegaskan komitmennya dalam mendorong pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis teknologi tinggi. Inisiatif ini tidak hanya menjadi solusi konkret atas persoalan sampah perkotaan, tetapi juga membuka potensi ekonomi baru yang berkelanjutan.

Lead of Waste-to-Energy Danantara Investment Management Fadli Rahman mengungkapkan fokus Danantara Indonesia adalah memastikan tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko.

“Fokus ini menjadi penting untuk memastikan pengembangan WtE berjalan berkelanjutan, aman, dan dapat diterima publik sebagai bagian dari solusi nasional pengelolaan sampah,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, keberhasilan WtE tidak hanya ditentukan oleh pilihan teknologi, tetapi sangat bergantung pada kualitas tata kelola sejak fase perencanaan. Karena itu, Danantara juga menaruh perhatian besar pada pemilihan teknologi yang digunakan agar sejalan dengan standar perlindungan lingkungan dan kesehatan publik.

“Kami memastikan teknologi yang digunakan adalah teknologi WtE termutakhir. Indonesia tidak lagi menggunakan insinerator lama, melainkan mechanical-grade incinerator dengan sistem penyaringan berlapis untuk menangkap residu emisi, sehingga udara yang dilepas memenuhi standar kesehatan internasional, termasuk rujukan WHO,” jelasnya.

Selain teknologi, aspek operasional juga menjadi bagian krusial dalam tata kelola WtE. Pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pembakaran, tetapi mencakup seluruh rantai operasi yang harus diawasi secara ketat.

“Mulai dari proses pengeringan sampah untuk menurunkan kadar air dan air lindi, hingga pengelolaan residu dan pengawasan operasional. Seluruhnya kami dorong sebagai satu kesatuan tata kelola agar WtE benar-benar aman, berkelanjutan, dan menjadi solusi nasional pengelolaan sampah,” kata Fadli.

Sementara itu, Senior Researcher Tenggara Strategics, Intan Salsabila Firman, menambahkan bahwa efektivitas PSEL telah terbukti di mancanegara.

Ia mencontohkan Swedia yang berhasil menekan angka sampah di TPA hingga di bawah satu persen, serta Singapura dan China yang sukses mengintegrasikan teknologi WtE secara luas.

“Saat ini, 66,26 persen sampah di Indonesia masih berakhir di TPA dengan sistem open dumping yang memicu masalah kesehatan dan emisi gas rumah kaca. PSEL bukan sekadar teknologi, tapi instrumen krusial bagi transisi energi dan perbaikan tata kelola lingkungan,” pungkas Intan.

Melalui pengembangan PSEL berteknologi tinggi, Danantara optimistis dapat berkontribusi nyata dalam mewujudkan pengelolaan sampah modern, mendukung ketahanan energi nasional, serta memperkuat arah pembangunan berkelanjutan Indonesia ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *