Industri Pupuk Fakfak Perkuat Ketahanan Pangan di Papua
Papua- Pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia. Keberadaan industri pupuk di wilayah tersebut diyakini mampu menjawab tantangan tingginya biaya produksi pertanian yang selama ini membebani petani Papua akibat mahalnya distribusi pupuk dari luar daerah.
Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, menyampaikan bahwa rencana pembangunan industri pupuk di Fakfak memiliki dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi perekonomian Papua secara keseluruhan. Menurutnya, pembangunan ini menjadi wujud nyata dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis wilayah timur.
Pembangunan industri pupuk di Fakfak dapat memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong hilirisasi di kawasan timur Indonesia, ujar Billy Minggu (18/1/2026).
Billy menjelaskan bahwa selama ini biaya logistik pupuk menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi pertanian di Papua. Kondisi geografis yang menantang menyebabkan ongkos pengiriman pupuk dari luar daerah sangat tinggi, bahkan dapat mencapai hampir sepertiga dari total biaya yang harus ditanggung petani.
Bayangkan ketika terjadi hilirisasi pupuk, maka biaya logistiknya akan lebih murah, katanya.
Dengan adanya industri pupuk di Fakfak, distribusi pupuk ke sentra-sentra pertanian di Papua diharapkan menjadi lebih efisien. Penurunan biaya logistik tersebut diyakini akan berdampak langsung pada penurunan biaya produksi, sehingga produk pertanian Papua memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar regional maupun nasional.
Selain meningkatkan daya saing, akses pupuk yang lebih dekat dan mudah juga diproyeksikan akan mendorong peningkatan produktivitas petani. Ketersediaan pupuk yang stabil menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan produksi pertanian dan mendukung program ketahanan pangan di Papua.
Berdasarkan rencana pemerintah, pembangunan industri pupuk di Kabupaten Fakfak diproyeksikan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan akan digarap oleh PT Pupuk Indonesia. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung program food estate, serta menekan biaya logistik pupuk di wilayah Papua.
Industri pupuk yang berlokasi di Distrik Tomage tersebut ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amonia per tahun, dengan nilai investasi mencapai puluhan triliun rupiah. Keberadaan bahan baku gas alam di Papua menjadi salah satu faktor pendukung utama pembangunan industri tersebut.
Billy menambahkan bahwa dampak pembangunan industri pupuk tidak hanya terbatas pada sektor pertanian. Hilirisasi sumber daya alam dinilai akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat hingga penciptaan lapangan kerja baru.
Dampak bergandanya itu luar biasa, dari sisi income, revenue, sampai penyerapan tenaga kerja, tuturnya.
Dengan berbagai potensi tersebut, pembangunan industri pupuk di Fakfak diharapkan menjadi motor penggerak baru bagi pembangunan ekonomi Papua yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
